It`s My Second Home,, Happy Surfing! n_n

Prikitiw,,!!!

Contoh Penulisan Ilmiah


BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang

Kunci pembangunan masa mendatang bagi Bangsa Indonesia adalah pendidikan. Sebab dengan pendidikan setiap individu dapat meningkatkan kualitas keberadaannya dan mampu berpatisipasi dalam gerak pembangunan. Dengan pesatnya perkembangan dunia di era globalisasi ini, terutama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), maka pendidikan nasional yang harus terus menerus dikembangkan seirama dengan zaman.

Dalam undang-undang republik Indonesia No 20 Tahun 2003 Bab I Pasal I Ayat I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual dan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Semakin melemahnya bangsa ini paska krisis moneter yang kita alami telah membuat Indonesia berada diurutan bawah dalam hal kualitas pendidikannya. Minimnya sarana dan prasarana pendukung menyebabkan pengajaran tidak dapat dilakukan dengan optimal. Selain itu, kendala yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan terdapat pada pihak siswa sebagai objek pendidikan dan juga dari pihak pendidik itu sendiri. Namun yang disoroti dalam laporan ini adalah kendala yang berasal dari siswa.

Kendala dalam belajar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Misalnya, kurang tersedianya media gambar sebagai media pendukung sarana belajar yang dapat lebih meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran. Dalam hal ini khususnya dalam mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran (eksak) yang wajib dipelajari di pendidikan dasar. Mata pelajaran ini megajarkan siswa mengenai dasar dari logika. Baik itu perhitungan langsung maupun tidak langsung. Sedangkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran (non eksak) yang membahas tentang keilmuan dasar yang berhubungan dengan kepentingan sosial. Seperti ilmu-ilmu ekonomi, geografi, sejarah, dan lain-lain.

Sehubungan dengan hal tersebut, hasil ulangan normative kelas VI SDN Babakanloa IV, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, pada Mata Pelajaran Matematika (eksak) dengan materi pokok “Luas Segitiga” dan Mata Pelajaran IPS (non eksak) dengan maeri pokok “Identifikasi Negara-negara tetangga yang termasuk Negara ASEAN”, menunjukkan rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran tersebut.

Untuk mata pelajaran Matematika, dari 15 orang siswa yang telah menguasai materi 70% ke atas sebanyak 6 orang (40%) dan sisanya 9 orang siswa (60%) tingkat penguasaan terhadap materi di bawah 70%. Dalam mata pelajaran IPS, siswa yang telah telah menguasai materi 70% ke atas sebanyak 7 orang siswa (46%) sedangkan 8 orang siswa lainnya (54%) tingkat penguasaan materinya masih di bawah 70%.

Bertitik tolak dari permasalahan di atas penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang permasalahan yang terjadi dan dituangkan dalam bentuk laporan penelitian dengan judul “Peranan Media Gambar untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pelajaran Matematika pada Konsep Menentukan Luas Segitiga di kelas VI SD Babakanloa IV dan Peranan Media Gambar untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pelajaran IPS pada Konsep Mengidentifikasi Negara–negara Tetangga Indonesia di Kelas VI SD Babakanloa IV”.

  1. 2. Rumusan Masalah

Bedasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan dan membatasi masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengaruh penggunaan media gambar terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Matematika?
  2. Bagaimana pengaruh penggunaan media gambar terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial?
  1. 3. Tujuan Penelitian

Dari rumusan dan pembatasan masalah di atas, maka maksud dan tujuan penulisan laporan ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Matematika.
  2. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
  1. 4. Manfaat Penelitian
  1. Bagi Siswa
    1. Siswa dapat merasakan adanya peningkatan hasil belajar.
    2. Siswa dapat menambah wawasan materi pelajaran.
  2. Bagi Guru
      1. Proses pembelajaran ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan guru itu sendiri dan guru lainnya.
      2. Perangkat pembelajaran ini dapat digunakan sebagai model untuk diuji cobakan oleh guru lain.
    1. Bagi Sekolah
      1. Meningkatkan mutu sekolah.
      2. Meningkatkan kualitas lulusan.

BAB II

LANDASAN TEORI

2. 1. Pendidikan

Beberapa definisi mengenai pendidikan dapat dikemukakan di bawah ini: M.J. Langeveld (1995) :

1)      Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan.

2)      Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan bertanggung jawab secara susila.

3)      Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab.

Stella van Petten Henderson: Pendidikan merupakan kombinasai dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan warisan sosial. Kohnstamm dan Gunning (1995): Pendidikan adalah pembentukan hati nurani. Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan penetuan-diri secara etis, sesuai denga hati nurani.

John Dewey (1978): Aducation is all one with growing; it has no end beyond itself. (pendidikan adalah segala sesuatu bersamaan dengan pertumbuhan; pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir di balik dirinya).

H.H Horne: Dalam pengertian luas, pendidikan merupakan perangkat dengan mana kelompok sosial melanjutkan keberadaannya memperbaharui diri sendiri, dan mempertahankan ideal-idealnya.

Encyclopedia Americana (1978) :

  • Pendidikan merupakan sebarang proses yang dipakai individu untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan, atau mengembangkan sikap-sikap ataupun keterampilan-keterampilan.
  • Pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis dan intensional dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.

Dari berbagai definisi tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan gejala insani yang fundamental dalam kehidupan manusia untuk mengantarkan anak manusia ke dunia peradaban. Pendidikan juga merupakan bimbingan eksistensial manusiawi dan bimbingan otentik, agar anak belajar mengenali jati dirinya yang unik, bisa bertahan hidup, dan mampu memiliki, melanjutkan-mengembangkan warisan-warisan sosial generasi yang terdahulu.

2. 2. Unsur-unsur pendidikan

Proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu :

1)      Subjek yang dibimbing (peserta didik).

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya

2)      Orang yang membimbing (pendidik).

Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat/organisasi.

3)      Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).

Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanifulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).

4)      Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.

5)      Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).

Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya mengembangkan kebhinekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.

6)      Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).

Alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.

7)      Tempat peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

Lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

2. 3. Pembelajaran

Salah satu faktor utama yang dapat menciptakan kualitas sumber daya manusia yang baik adalah seorang guru. Guru yang dimaksudkan adalah guru yang professional yang berdedikasi tinggi akan profesinya. Dalam suatu proses belajar mengajar diperlukan seorang figur yang dapat dijadikan contoh, oleh karena itu tidak semua orang bisa dijadikan seorang guru.

Tidak sembarang orang dapat melakukan tugas seorang guru, tetapi orang-orang tertentu yang memenuhi persyaratan berikut ini yang dipandang mampu menjalankannya: bertakwa, berilmu, sehat jasmani, dan berkelakuan baik (Zakiah Darajat, 1992).

Tugas guru yang utama diantaranya adalah membantu transfer belajar. Tujuan transfer belajar ialah menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi baru, artinya apa yang dipelajari itu dibuat umum sifatnya. Melalui penugasan dan diskusi kelompok misalnya seorang guru dapat membantu transfer belajar. Oleh karena itu fakta, keterampilan, konsep dan prinsip yang diperlukan untuk terjadinya transfer belajar sudah dikuasai oleh para siswa yang sedang belajar.

Agar transfer belajar berjalan dengan lancar, maka diperlukan suatu instrument/alat sehingga penyampaian materi pembelajaran dapat di serap sepenuhnya oleh subjek pendidikan dalam hal ini siswa. Instrument/alat yang digunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia biasa disebut dengan media pembelajaran.

2. 4. Media

Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media pembelajaran yang memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut EACT yang dikutip oleh Rohani (1997 : 2) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi”. Sedangkan pengertian media menurut Djamarah (1995 : 136) adalah “media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.

media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.

(Purnamawati dan Eldarni,2001 : 4)

Banyak sekali jenis media yang sudah dikenal dan digunakan dalam penyampaian informasi dan pesan-pesan pembelajaran. Setiap jenis atau bagian dapat pula dikelompokkan sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat media tersebut. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang baku dalam mengelompokkan media. Jadi banyak tenaga ahli mengelompokkan atau membuat klasifikasi media akan tergantung dari sudut mana mereka memandang dan menilai media tersebut.

Penggolongan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997 : 16) yaitu :

  1. Gambar diam, baik dalam bentuk teks, bulletin, papan display, slide, film strip, atau overhead proyektor
  2. Gambar gerak, baik hitam putih, berwarna, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara
  3. Rekaman bersuara baik dalam kaset maupun piringan hitam
  4. Televisi
  5. Benda – benda hidup, simulasi maupun model
  6. Instruksional berprograma ataupun CAI (Computer Assisten Instruction).

Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses belajar dan pembelajaran adalah suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Karena memang gurulah yang menghendaki untuk memudahkan tugasnya dalam menyampaikan pesan-pesan atau materi pembelajaran kepada siswanya. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka materi pembelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh siswa, terutama materi pembelajaran yang rumit dan komplek.

Setiap materi pembelajaran mempunyai tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pembelajaran yang tidak memerlukan media pembelajaran, tetapi dilain sisi ada bahan pembelajaran yang memerlukan media pembelajaran. Materi pembelajaran yang mempunyai tingkat kesukaran tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa, apalagi oleh siswa yang kurang menyukai materi pembelajaran yang disampaikan.

Manfaat Media Pembelajaran menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu :

  1. Membuat konkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan peredaran darah.
  2. Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat di dalam lingkungan belajar.
  3. Manampilkan obyek yang terlalu besar, misalnya pasar, candi.
  4. Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.
  5. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat.
  6. Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya.
  7. Membangkitkan motivasi belajar
  8. Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota kelompok belajar.
  9. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.

10.  Menyajikan informasi belajar secara serempak (mengatasi waktu dan ruang)

11.  Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

2. 5. Luas Segitiga

Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran (eksak) yang wajib dipelajari di pendidikan dasar. Mata pelajaran ini megajarkan siswa mengenai dasar dari logika. Baik itu perhitungan langsung maupun tidak langsung. Salah satu bidang keilmuan atau materi yang diajarkan dalam Mata Pelajaran Matematika adalah mengenai Bangun Datar. Dalam materi Bangun Datar ini, siswa diwajibkan menguasai materi-materi seperti mencari luas dan keliling dari bangun datar tersebut.

Macam-macam bangun datar yang wajib diajarkan pada siswa kelas VI adalah sebagai berikut :

a. Persegi Panjang

b. Persegi

c. Segitiga

d. Jajargenjang

e. Belah Ketupat

f. Layang-layang

g. Trapesium

h. Lingkaran


2. 6. PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. Karakteristik PTK adalah sebagai berikut :

  1. An inquiry of practice from within (penelitian berasal dari kerisauan guru akan kinerjanya).
  2. Selft-reflective inquiry (metode utama adalah refleksi diri, bersifat agak longgar, tetapi tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian).
  3. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran.
  4. Tujuannya : memperbaiki pembelajaran.

Dari karakteristik tersebut dapat dibandingkan cirri-ciri PTK dengan penelitian kelas dan penelitian formal. Guru paling tepat melakukan PTK karena :

  1. Guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya.
  2. Temuan penelitian biasa/formal sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran.
  3. Guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya.
  4. Interaksi guru-siswa berlangsung secara unik.
  5. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru mampu melakukan penelitian di kelasnya.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mempunyai manfaat yang cukup besar, baik bagi guru, pembelajaran/siswa, maupun sekolah :

  1. Bagi Guru
  • Membantu guru memperbaiki pembelajaran.
  • Membantu guru berkembang secara professional.
  • Meningkatkan rasa percaya diri guru.
  • Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.

1. Bagi Pembelajaran/siswa

PTK bermanfaat untuk meningkatkan proses/hasil belajar siswa, di samping guru yang melaksanakan PTK dapat menjadi model bagi para siswa dalam bersikap kritis terhadap hasil belajarnya.

2. Bagi Sekolah

PTK membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan/kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut.

Di samping manfaat, PTK mempunyai keterbatasan, yaitu validitasnya yang masih sering dipertanyakan, serta tidak mungkin melakukan generalisasi karena sampelnya hanya kelas dari guru yang berperan sebagai pengajar dan peneliti.

PTK memerlukan berbagai kondisi agar dapat berlangsung dengan baik dan melembaga. Kondisi tersebut antara lain dukungan dari semua personil di sekolah, iklim yang terbuka yang memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi, berdikusi, berkolaborasi, dan saling mempercayai di antara personil sekolah, dan juga saling percaya antara guru dan siswa. Birokrasi yang terlampau ketat merupakan hambatan bagi PTK.

Ada beberapa langkah dalam PTK yang merupakan satu daur atau siklus yang terdiri dari :

  1. Merencanakan perbaikan
  2. Melaksanakan tindakan
  3. Mengamati, dan
  4. Melakukan refleksi.

Untuk merencakan perbaikan terlebih dahulu perlu dilakukan identifikasi masalah dan analisis dan perumusan masalah. Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang pembelajaran yang dikelola. Setelah masalah teridentifikasi, masalah perlu dianalisis dengan cara melakukan refleksi dan menelaah berbagai dokumen yang terkait. Dari hasil analisis, dipilih dan dirumuskan masalah yang paling mendesak dan mungkin dipecahkan oleh guru. Masalah kemudian dijabarkan secara operasional agar dapat memandu usaha perbaikan.

Setelah masalah dijabarkan, langkah berikutnya adalah mencari/mengembangkan cara perbaikan, yang dilakukan dengan mengkaji teori dan hasil penelitian yang relevan, berdiskusi dengan teman sejawat dan pakar, serta menggali pengalaman sendiri. Berdasarkan ini dikembangkan cara perbaikan atau tindakan yang sesuai dengan kemampuan dan komitmen guru, kemampuan siswa, sarana dan fasilitas yang tersedia, serta iklim belajar dan iklim kerja di sekolah.

Pelaksanaan tindakan dimulai dengan mempersiapkan rencana pembelajaran dan skenario tindakan termasuk bahan pelajaran dan tugas-tugas, menyiapkan alat pendukung/sarana lain yang diperlukan, mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data, serta melakukan simulasi pelaksanaan jika diperlukan.

Dalam melaksanakan tindakan atau perbaikan, observsai dan interpretasi dilakukan secara simultan. Aktor utama adalah guru, namun guru dapat dibantu oleh alat perekam data atau teman sejawat sebagai pengamat. Agar pelaksanaan tindakan sesuai dengan kaidah PTK, perlu di terapkan enam kriteria berikut ini :

  1. Metodologi jangan sampai mengganggu komitmen guru sebagai pengajar.
  2. Pengumpulan data jangan sampai menyita waktu guru terlampau banyak.
  3. Metodologi harus reliable (handal) hingga guru dapat menerapkan strategi yang sesuai dengan situasi kelasnya.
  4. Masalah yang ditangani guru harus sesuai dengan kemampuan dan komitmennya.
  5. Guru harus memperhatikan berbagai aturan (etika) yang berkaitan dengan tugasnya.
  6. PTK harus mendapat dukungan dari masyarakat sekolah.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Subjek Penelitian

3. 1. 1. Tempat dan waktu penelitian

Adapun kegiatan perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas VI SDN Babakanloa IV Kp. Sukaraja Desa Babakanloa Kecamatan Pangatikan Kabupaten Garut, mulai tanggal 27 Juli 2009 sampai dengan 4 Agustus 2009. Jadwal pelaksanaan perbaikan untuk setip mata pelajaran adalah sebagai berikut :

  1. Mata pelajaran Matematika (eksak)
    1. Siklus I, hari senin tanggal 27 Juli 2009, jam ke I (07 30 – 08 05)
    2. Siklus II, hari senin tanggal 3 Agustus2009, jam ke I (07 30 – 08 05)
    3. Mata pelajaran IPS (non eksak)
      1. Perbaikan diadakan satu hari yaitu pada tanggal 4 Agustus 2009, jam ke I (07 30 – 08 05)
      2. 2. Karakter Siswa

Siswa siswi yang sekolah di SDN babakanloa IV terutama yang duduk di kelas VI biasa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, hal ini dikarenakan lokasi rumah mereka dengan lokasi sekolah tidak begitu jauh. Keadaaan ekonomi dari masing-masing siswa rata-rata dari tingkat menengah ke bawah, ini bisa dilihat dari pekerjaan orang tua mereka.

3.2. Deskripsi per Siklus

3.2.1. Rencana Perbaikan Pembelajaran

Bertitik tolak dari perumusan permasalah, kami akan melaksanakan perbaikan pembelajaran Mata pelajaran Matematika dengan materi “Luas Segitiga” dan mata pelajaran IPS dengan materi “mengidentifikasi negara tetangga Inidonesia” di kelas VI SDN Babakanloa IV. Untuk mata pelajaran Matematika diadakan dua kali perbaikan (2 siklus), sedangkan untuk mata pelajaran IPS hanya diadakan satu kali perbaikan.

Untuk melaksanakan tindakan perbaikan, maka disusunlah rencana perbaikan pembelajaran secara umum, yaitu :

  1. Menetapkan perencanaan, menentukan tujuan pembelajaran dan tujuan perbaikan pembelajaran.
  2. Merancang lembar observasi, menyampaikan materi dan tindak lanjut.
  3. Menyusun kegiatan yang terdiri dari :
    1. Memilih bahan yang relevan untuk bahan perbaikan.
    2. Menentukan langkah pembelajaran (kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir).
    3. Memilih metode.
    4. Memilih alat peraga/media yang sesuai dengan materi pembelajaran.
    5. Menyusun alat evaluasi untuk mencapai tujuan perbaikan.

3. 2. 2. Prosedur Pelaksanaan

Penelitian tindakan kelas (PTK) dilaksanakan dalam bentuk proses beralur (siklus), setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan (Planning), tahap tindakan (action), tahap pengamatan (observation), dan tahap refleksi (reflection). Orientasi yang dilakukan oleh peneliti dengan peneliti mitra adalah :

  • Melakukan indentifikasi, analisis, dan merumuskan masalah.
  • Menyamakan pemahaman antara peneliti dengan observer tentang penggunaan media dan metode yang dipilih.
  • Penempatan siklus dan fokus tindakan serta instrument dan administrasi rencana pembelajaran yang akan digunakan.
  • Berdasarkan hasil kesepahaman antara peneliti dan dosen pembimbing, maka disusunlah rencana pembelajaran dan instrument penelitian.

Deskripsi pelaksanaan tiap siklus untuk mata pelajaran Matematika

A. Perencanaan

  • Mengidentifikasi masalah pembelajaran Matematika

Melalui refleksi tehadap pembalajaran yang biasa dilakukan, peneliti menemukan masalah dalam pembelajaran Matematika di kelas VI SDN Babakanloa IV Kecamatan Pangatikan. Yakni pembelajaran berlangsung dengan tidak tertib, dan motivasi siswa untuk belajar dirasakan peneliti masih kurang, hal ini terbukti dengan hasil pembelajaran yang belum memuaskan.

  • Merumuskan masalah dan tindakan pemecahan masalah pembelajaran Matematika

Setelah mengidentifikasi masalah, peneliti menentukan upaya yang harus dilakukan untuk mengatasinya, yaitu dengan cara:

  1. Memilih alat bantu yang dapat memotivasi siswa, salah satunya dengan alat peraga realistik
  2. Menggunakan metode yang bervariatif, diantaranya dengan metode latihan (drill), kerja kelompok, dan diskusi.

B. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pelakasanaan perbaikan dilakukan dalam 2 siklus, dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :

  1. 1. Prosedur umum pelaksanaan
    1. Merancang tindakan pembelajaran, antara lain: pembuatan rencana pembelajaran, pembuatan lembar pengamatan, menyiapkan media/alat bantu yang diperlukan, dan pengelompokan siswa.
    2. Melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat pada setiap siklus.
    3. Pada saat berlangsung tindakan pembelajaran, peneliti dan siswa diamati oleh teman sejawat (observer).
    4. Setelah pembelajaran berakhir, peliti bersama dengan teman sejawat merefleksi proses dan hasil pembelajaran sebagaimana terdapat pada catatan hasil observasi. Hasil kegiatan refleksi dijadikan pertimbangan dalam menyusun rencana perbaikan pembelajaran berikutnya.
  1. 2. Prosedur Khusus Pembelajaran

Pelaksanaan tindakan secara khusus diterapkan pada masing-masing siklus perbaikan pembelajaran Matematika sebagai berikut:

SIKLUS I

  1. a. Fokus perbaikan

Tindakan pembelajaran pada siklus I difokuskan pada “upaya penanaman konsep yang jelas”, untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran Matematika. Sehingga kemampuan siswa dalam “menentukan rumus luas segitiga” diharapkan dapat meningkat.

  1. b. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan utama tindakan pembelajaran yang dilakukan pada siklus I adalah “upaya penanaman konsep yang jelas”, yang dilakuakan dengan metode latihan dan diperkuat oleh aspek hapalan. Dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  • Guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran.
  • Memastikan siswa untuk duduk di kelompoknya masing-masing.
  • Dengan bimbingan guru, siswa melakukan latihan menentukan rumus luas segitiga.
  • Siswa menuliskan contoh rumus luas segitiga.
  • Guru membimbing siswa yang belum paham dalam menentukan rumus luas segitiga.
  • Guru memberikan komentar/umpan balik.
  • Guru memberikan LK dan media gambar kepada masing-masing kelompok untuk diamati.
  • Siswa mengisi LK sesuai dengan hasil pengamatan dan rundingan teman sekelompoknya.
  • Dengan bimbingan guru, siswa melaporkan hasil diskusi oleh perwakilan masing-masing kelompok.
  • Guru dan siswa bertanya jawab untuk membahas hasil laporan dari tiap kelompok.
  • Guru memberikan soal latiahan kepada siswa untuk dikerjakan.
  • Guru dan siswa menyimpulkan materi pelajaran.
  1. c. Observasi terhadap Pelaksanaan dan Hasil Pembelajaran

Observasi kegiatan di kelas di bantu oleh teman sejawat yang duduk di belakang, untuk mengamati proses pembelajaran yang berlangsung. Sementara penulis sendiri melakukan tindakan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan pengamatan terhadap siswa. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut adalah: lembar observasi untuk guru dan siswa, LK, dan soal latihan yang dibuat oleh guru untuk memperoleh hasil belajar siswa.

  1. d. Refleksi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I

Kegiatan refleksi dilakukan setelah selesai pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus I. Dalam kegiatan refleksi peneliti dan teman sejawat (observer) menganalisa dan mengevaluasi pelaksanaan dan hasil dari tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus I. berdasarkan hasil analisis dan hasil refleksi, peneliti merancang tindakan perbaikan untuk dilaksanakan pada pembelajaran siklus ke II.

SIKLUS II

  1. a. Fokus Perbaikan Pembelajaran

Fokus tindakan pada siklus II adalah “berlatih memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari”. Yaitu mencakup masalah cara mencari luas segitiga.

  1. b. Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan utama yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut :

  • Guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran.
  • Memastikan siswa untuk duduk di kelompoknya masing-masing.
  • Guru memberikan LK dan media gambar kepada masing-masing kelompok untuk diamati.
  • Siswa mengisi LK sesuai dengan hasil pengamatan dan rundingan teman sekelompoknya.
  • Dengan bimbingan guru, siswa melaporkan hasil diskusi oleh perwakilan masing-masing kelompok.
  • Guru dan siswa bertanya jawab untuk membahas hasil laporan dari tiap kelompok.
  • Guru memberikan soal latihan kepada siswa untuk dikerjakan.
  • Guru dan siswa menyimpulkan materi pelajaran.
  1. c. Observasi terhadap Pelaksanaan dan Hasil Pembelajaran

Observasi terhadap kegiatan di kelas dilakukan teman sejawat (observer). Alat pengumpul data yang digunakan antara lain, yaitu: lembar observasi untuk guru dan siswa, LK, dan soal latihan yang di buat oleh guru untuk memperoleh hasil belajar.

  1. d. Refleksi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II

Kegiatan refleksi dilakukan setelah selesai pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus II. Dalam kegiatan refleksi peneliti dan teman sejawat (observer) menganalisa dan mengevaluasi pelaksanaan dan hasil dari tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus II, apakah sudah berhasil atau belum?

Deskripsi Siklus untuk Mata Pelajaran IPS

  1. A. Perencanaan
    1. Mengidentifikasi masalah pembelajaran IPS

Hasil kegiatan mengidentifikasi permasalahan pada pembelajaran IPS di kelas VI SDN Babakanloa Kecamatan Pangatikan, yang dihadapi selama ini dilapangan adalah “kemampuan siswa terhadap meteri pembelajaran mengidentifikasi negara-negara tetangga Indonesia”. Guru kurang memberikan rangsangan pada siswa untuk membiasakan bertanya.

Selain itu guru tidak menggunakan alat bantu pada waktu pembalajaran berlangsung. Sehingga siswa kurang termotivasi dan terpancing untuk mengeluarkan suatu pendapat, gagasan, atau ide.

Dari permasalahan di atas, perlu diadakan upaya memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini dihadapkan pada kelemahan, baik dari guru maupun aspek lain yang berdampak pada rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran.

  1. Merumuskan masalah dan tindakan pemecahan masalah pembelajaran IPS

Dalam rangaka upaya memperbaiki proses dan hasil pembelajaran, maka guru merumuskan masalah yang dihadapi, yaitu: “bagaimana cara menggunakan alat peraga relistik untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi negara-negara tetangga”. Melalui Penelitian Tindakan Kelas, diharapkan penggunaan alat peraga realistik pada proses pembelajaran dapat dirasakan manfaatnya baik oleh guru maupun oleh siswa. Dalam upaya peningkatan  keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

  1. B. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan perbaikan dilakukan dalam satu siklus saja, dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :

  1. 1. Prosedur Umum Pelaksanaan
    1. Merancang tindakan pembelajaran, antara lain: pembuatan rencana pembelajaran, pembuatan lembar pengamatan, menyiapkan media/alat bantu yang diperlukan, dan pengelompokan siswa
    2. Melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat
    3. Pada saat berlangsung tindakan pembelajaran, peneliti dan siswa diamati oleh teman sejawat (observer).
    4. Setelah pembelajaran berakhir, peneliti bersama dengan teman sejawat merefleksi proses dan hasil pembelajaran sebagaimana terdapat pada catatan hasil observasi. Hasil kegiatan refleksi dijadikan pertimbangan dalam menyusun rencana perbaikan pembelajaran berikutnya.
    5. 2. Prosedur Khusus Pembelajaran

Pelaksanaan tindakan secara khusus diterapkan pada  perbaikan pembelajaran IPS sebagai berikut:

  1. a. Fokus Perbaikan

Fokus tindakan pembelajaran pada perbaikan adalah “meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi negara-negara tetangga Indonesia”. Yaitu dengan cara mengulang cara pengamatannya.

  1. b. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan utama yang dilakukan pada perbaikan adalah penggunaan alat bantu konkrit untuk membantu pemahaman siswa terhadap deskripsi materi melalui langkah-langkah sebagai berikut :

  • Guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakuakn selama pembelajaran
  • Memastikan siswa untuk duduk di kelompoknya masing-masing
  • Siswa menyimak penjelasan dari guru sambil mengamati alat peraga/media peta
  • Siswa menunjukkan negara-negara yang disebutkan oleh guru secara bergiliran
  • Guru memberikan komentar/umpan balik dan penguatan terhadap kegiatan yang dilakukan siswa
  • Guru memberikan LK kepada masing-masing kelompok untuk diamati
  • Siswa mengisi LK sesuai dengan hasil pengamatan dan rundingan teman sekelompoknya
  • Dengan bimbingan guru, siswa melaporkan hasil diskusi oleh perwakilan masing-masing kelompok
  • Guru dan siswa bertanya jawab untuk membahas hasil laporan dari tiap kelompok
  • Guru memberikan soal latiahan kepada siswa untuk dikerjakan
  • Guru dan siswa menyimpulkan materi pelajaran.
  1. c. Observasi terhadap Pelaksanaan dan Hasil Pembelajaran

Observasi terhadap kegiatan di kelas dilakukan teman sejawat (observer). Alat pengumpul data yang digunakan antara lain, yaitu: lembar observasi untuk guru dan siswa, LK, dan soal latihan yang di buat oleh guru untuk memperoleh hasil belajar.

  1. d. Refleksi Pelaksanaan Pembelajaran Perbaikan

Kegiatan refleksi dilakukan setelah selesai pelaksanaan tindakan pembelajaran perbaikan. Dalam kegiatan refleksi peneliti dan teman sejawat (observer) menganalisa dan mengevaluasi pelaksanaan dan hasil dari tindakan perbaikan pembelajaran pada perbaikan, apakah sudah berhasil atau belum?

Dalam kegiatan ini peneliti dan teman sejawat (observer) membandingkan data dan temuan yang diperoleh selama pembelajaran Matematika dan IPS. Hasil dari refleksi dan evaluasi dijadikan bahan bagi kegiatan tindak lanjut dari penelitian ini.

  1. 3. Aspek yang diobservasi
    1. a. Mata pelajaran Matematika
      1. Siklus I

a)      Apakah dalam membuka pelajaran melakukan apersepsi?

b)      Apakah perhatian siswa terpusat pada materi pelajaran?

c)      Apakah guru terlalu cepat dalam memberikan penjelasan?

d)     Apakah guru menggunakan alat peraga yang kongkrit?

e)      Apakah siswa diberi kesempatan untuk bertanya?

f)       Apakah guru memberi motivasi?

g)      Apakah guru memberikan contoh dalam penjelasan pelajaran?

h)      Apakah guru memberikan evaluasi pada siswa?

  1. Siklus II

a)      Apakah dalam membuka pelajaran melakukan apersepsi?

b)      Apakah perhatian siswa terpusat pada materi pelajaran?

c)      Apakah guru terlalu cepat dalam memberikan penjelasan?

d)     Apakah guru menggunakan alat peraga yang kongkrit?

e)      Apakah siswa diberi kesempatan untuk bertanya?

f)       Apakah guru memberi motivasi?

g)      Apakah guru memberikan contoh dalam penjelasan pelajaran?

h)      Apakah guru memberikan evaluasi pada siswa?

  1. b. Mata pelajaran IPS

a)      Apakah dalam membuka pelajaran melakukan apersepsi?

b)      Apakah perhatian siswa terpusat pada materi pelajaran?

c)      Apakah guru terlalu cepat dalam memberikan penjelasan?

d)     Apakah guru menggunakan alat peraga yang kongkrit?

e)      Apakah siswa diberi kesempatan untuk bertanya?

f)       Apakah guru memberi motivasi?

g)      Apakah guru memberikan contoh dalam penjelasan pelajaran?

h)      Apakah guru memberikan evaluasi pada siswa?

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Pembahasan

4. 1. 1. Pembahasan Mata Pelajaran Matematika

Pada proses perbaikan Mata Pelajaran Matematika yang dilakukan melalui dua siklus, hasilnya menunjukan hal yang positif. Dari 15 orang siswa yang mengikuti perbaikan, persentase penguasaan materi sebelum perbaikan adalah 59%, lalu meningkat menjadi 64% setelah dilakukan perbaikan pada siklus I, persentase penguasaan materi kembali meningkat menjadi 83% setelah dilakukan perbaikan pada siklus II. Hal ini menunjukan bahwa pengalaman siswa bertambah dari siklus sebelumnya. Perbaikan pembelajaran pada Mata Pelajaran Matematika terjadi setelah guru memberi penjelasan dengan perlahan-lahan, pemberian contoh yang jelas, penggunaan alat peraga, dan diadakannya Tanya jawab.

Dalam tabel 1.3, percobaan analisis soal siklus II untuk mata pelajaran matematika pada 15 siswa mengalami peningkatan persentase untuk setiap soal dari 1-5 dibandingkan dengan analisis soal siklus I pada tabel 1.2. sebagai contoh ada peningkatan persentase dari percobaan soal siklus I pada soal 1 yaitu mengalami peningkatan persentase dari 80% menjadi 93% pada percobaan soal siklus II

Berikut ini adalah rincian nilai yang didapat siswa sebelum diadakan perbaikan sampai diadakannya perbaikan siklus ke dua.

Sebelum Perbaikan

Sebelum diadakan perbaikan rincian perolehan nilai 15 orang  siswa adalah sebagai berikut :

1)      Nilai 90 ada 1 siswa

2)      Nilai 80 ada 1 siswa

3)      Nilai 70 ada 2 siswa

4)      Nilai 60 ada 5 siswa

5)      Nilai 50 ada 4 siswa

6)      Nilai 40 ada 2 siswa

Jika dilihat dari perolehan nilai di atas, nilai maksimal yang di peroleh siswa adalah 90 dan nilai terendahnya adalah 40. Siswa yang mendapat nilai di atas KKM yang ditentukan yaitu 60 ada 9 orang siswa, sedangkan nilai yang masih di bawah KKM ada 6 orang.

Siklus I

Perbaikan pembelajaran Matematika telah meningkat dilihat dari jumlah siswa yang mendapat nilai :

1)      Nilai 90 ada 1 siswa

2)      Nilai 80 ada 2 siswa

3)      Nilai 70 ada 3 siswa

4)      Nilai 60 ada 5 siswa

5)      Nilai 50 ada 4 siswa

6)      Nilai 40 ada – siswa

Tapi walaupun demikian masih ada siswa yang masih belum menguasai materi dilihat dari jumlah siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yaitu 50 sebanyak 4 siswa.

Siklus II

Pada siklus ini, pencapaian pembelajaran sudah ada yang mencapai nilai 100. Selain itu, sudah tidak ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Berikut datanya :

1)      Nilai 100 ada 2 siswa

2)      Nilai 90 ada 5 siswa

3)      Nilai 80 ada 4 siswa

4)      Nilai 70 ada 3 siswa

5)      Nilai 60 ada 1 siswa

  1. 2. Pembahasan Mata Pelajaran IPS

Pada proses perbaikan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, hasilnya menunjukan hal yang positif. Dari 15 orang siswa yang mengikuti perbaikan, persentase penguasaan materi sebelum perbaikan adalah 77%, lalu meningkat menjadi 87% setelah dilakukan perbaikan. Hal ini menunjukan bahwa pengalaman siswa bertambah dari siklus sebelumnya. Perbaikan pembelajaran pada Mata Pelajaran Matematika terjadi setelah guru memberi penjelasan dengan perlahan-lahan, pemberian contoh yang jelas, penggunaan alat peraga, dan diadakannya Tanya jawab.

Dalam tabel 1.5, percobaan analisis soal perbaikan untuk mata pelajaran matematika pada 15 siswa bisa dibilang sangat memuaskan, hal ini bisa di lihat dari persentase lima soal yang di jawab dimana tingkat kebenaran dari tiap soal soal sudah mencapai 80-100%.

Berikut ini adalah rincian nilai yang didapat siswa sebelum diadakan perbaikan sampai diadakannya perbaikan.

Sebelum Perbaikan

Sebelum diadakan perbaikan rincian perolehan nilai 15 orang  siswa adalah sebagai berikut :

1)      Nilai 90 ada 3 siswa

2)      Nilai 80 ada 6 siswa

3)      Nilai 70 ada 4 siswa

4)      Nilai 60 ada 2 siswa

Jika dilihat dari perolehan nilai di atas, nilai maksimal yang di peroleh siswa adalah 90 dan nilai terendahnya adalah 60. Siswa yang mendapat nilai di atas KKM yang ditentukan yaitu 65 ada 13 orang siswa, sedangkan nilai yang masih di bawah KKM ada 2 orang.

Setelah Perbaikan

Pada perbaikan ini, pencapaian pembelajaran sudah ada yang mencapai nilai 100%. Selain itu, sudah tidak ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Hal ini di karenakan sebelum dilakukan perbaikan ada yang sudah menguasai materi. Berikut datanya :

1)      Nilai 100 ada 5 siswa

2)      Nilai 90 ada 2 siswa

3)      Nilai 80 ada 6 siswa

4)      Nilai 70 ada 2 siswa

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1. Kesimpulan

Dari hasil pengolahan dan analisis data, maka program perbaikan pembelajaran dengan menggunakan media gambar menunjukan pengaruh yang positif. Hal ini bisa dilihat dari nilai rata-rata pembelajaran dari tiap mata pelajaran yang mengalami peningkatan. Dimana untuk Mata Pelajaran Matematika nilai rata-rata sebelum diadakan perbaikan adalah 58,7 lalu meningkat menjadi 64 setelah dilakukan perbaikan pada siklus I, nilai rata-rata kembali meningkat menjadi 82,6 setelah dilakukan perbaikan pada siklus II.

Sedangkan untuk Mata Pelajajaran IPS nilai rata-rata sebelum diadakan perbaikan adalah 76,6 lalu meningkat menjadi 86,6 setelah dilakukan perbaikan.

5. 2. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran diantaranya adalah :

  1. Pengunaan alat bantu konkrit sangat diperlukan untuk menanamkan pengertian siswa.
  2. Metode demonstrasi sangat penting untuk memantapkan pengertian dan keterampilan.
  3. Pada perencanaan perbaikan pengajar harus mencantumkan pertanyaan yang akan disajkan, supaya pertanyaan lebih terarah.
  4. Penelitian Tindakan Kelas sangat perlu disosialisasikan kepada para guru sekolah dasar sebagai keterampilan professional dalam memecahkan permasalahan pembelajaran yang dihadapi di kelas.

 

About these ads

April 2, 2011 - Posted by | umum

1 Comment »


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: